Pengertian Research Gap dan Cara Menemukannya dalam Jurnal
WWW.GOLANEDUCATION.COM – Cara menemukan research gap dalam jurnal menjadi langkah penting bagi mahasiswa yang sedang mencari ide untuk skripsi atau penelitian ilmiah. Research gap menunjukkan adanya celah, keterbatasan, atau persoalan yang belum terjawab secara memadai dalam penelitian terdahulu. Dengan memahami celah tersebut, mahasiswa tidak perlu menentukan topik hanya berdasarkan tren atau ketertarikan pribadi, tetapi dapat membangun gagasan penelitian berdasarkan temuan akademik yang sudah tersedia.
Apa Itu Research Gap?
Dalam proses menyusun penelitian, mahasiswa sering menemukan banyak jurnal yang membahas topik serupa. Kondisi tersebut terkadang membuat pencarian ide penelitian menjadi lebih sulit karena muncul pertanyaan mengenai hal baru yang masih dapat dikaji. Pada tahap inilah research gap menjadi konsep penting karena membantu menunjukkan bagian dari suatu bidang ilmu yang belum terjawab, belum cukup diteliti, atau masih memiliki persoalan yang membutuhkan penjelasan.
Secara sederhana, research gap dapat dipahami sebagai celah penelitian yang terdapat di antara pengetahuan yang sudah tersedia dan pertanyaan yang masih belum memperoleh jawaban memadai. Celah tersebut tidak selalu berarti sebuah topik belum pernah diteliti sama sekali. Research gap juga dapat muncul ketika penelitian terdahulu menghasilkan temuan yang berbeda, menggunakan metode yang memiliki keterbatasan, atau belum menguji suatu persoalan pada konteks tertentu.
Karena itu, research gap memiliki peran penting dalam menentukan alasan mengapa suatu penelitian perlu dilakukan. Peneliti dapat menggunakan celah tersebut untuk menyusun rumusan masalah, menentukan tujuan penelitian, memilih metode, sekaligus menjelaskan kontribusi yang ingin diberikan. Dengan cara tersebut, penelitian tidak hanya mengulang pembahasan lama, tetapi memiliki dasar akademik yang jelas.
Mengapa Research Gap Penting?
Research gap membantu peneliti memahami posisi penelitian yang akan dilakukan di antara penelitian-penelitian terdahulu. Ketika seseorang menemukan celah yang jelas, ia dapat menjelaskan bagian mana yang sudah diketahui dan bagian mana yang masih membutuhkan kajian. Proses tersebut membuat latar belakang penelitian menjadi lebih kuat karena argumentasinya dibangun berdasarkan literatur, bukan sekadar berdasarkan asumsi pribadi.
Dalam penulisan skripsi, tesis, artikel ilmiah, maupun proposal penelitian, keberadaan research gap juga berkaitan dengan kontribusi akademik. Sebuah studi dapat memberikan kontribusi dengan menguji kembali hasil yang belum konsisten, memperluas objek penelitian, menggunakan pendekatan berbeda, atau mengisi aspek yang belum banyak dibahas. Literatur ilmiah menunjukkan bahwa tinjauan pustaka yang baik tidak berhenti pada kegiatan merangkum penelitian, tetapi juga perlu melakukan evaluasi kritis untuk menemukan celah pengetahuan.
Dengan demikian, menemukan research gap bukan sekadar formalitas sebelum menentukan judul penelitian. Proses ini membantu peneliti membangun hubungan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan. Bahkan, kerangka identifikasi research gap dalam systematic review telah dikembangkan untuk membantu peneliti mengenali dan mengategorikan kesenjangan secara lebih sistematis.
Jenis Research Gap dalam Jurnal
Research gap dapat muncul dalam berbagai bentuk sehingga peneliti tidak perlu terpaku pada satu pola ketika membaca jurnal. Salah satu bentuk yang sering ditemukan adalah knowledge gap, yaitu ketika pengetahuan mengenai suatu konsep atau fenomena masih terbatas. Misalnya, sebuah teknologi telah banyak digunakan pada perusahaan besar, tetapi penerapannya pada usaha mikro belum mendapatkan pembahasan yang memadai.
Bentuk lain adalah methodological gap, yang berkaitan dengan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian terdahulu. Sebagai contoh, sebagian besar penelitian mengenai suatu fenomena mungkin menggunakan pendekatan kuantitatif, sedangkan aspek pengalaman pengguna belum banyak dipahami melalui pendekatan kualitatif. Kondisi tersebut dapat menjadi peluang untuk menggunakan metode yang berbeda apabila pendekatan tersebut memang sesuai dengan pertanyaan penelitian. Literatur mengenai analisis research gap juga mengidentifikasi empirical, theoretical, population, evidence, application atau implementation, dan methodological gap sebagai beberapa bentuk kesenjangan yang dapat ditemukan dalam literatur.
Ada pula evidence gap yang muncul ketika bukti penelitian belum cukup kuat atau hasil antarpenelitian menunjukkan ketidakkonsistenan. Peneliti dapat menemukan kondisi ketika beberapa studi menghasilkan kesimpulan berbeda terhadap variabel yang sama. Situasi tersebut tidak langsung berarti salah satu penelitian keliru, tetapi dapat menjadi alasan untuk melakukan penelitian lanjutan guna memahami faktor yang menyebabkan perbedaan hasil. Kajian terbaru mengenai kerangka identifikasi research gap juga menunjukkan bahwa pendekatan untuk menemukan gap cukup beragam dan dapat digunakan untuk mengidentifikasi sifat kesenjangan dalam bukti yang tersedia.
Cara Membaca Jurnal untuk Menemukan Gap
Langkah pertama untuk menemukan research gap adalah membaca jurnal secara aktif, bukan sekadar mencari judul yang mirip dengan topik penelitian. Ketika menemukan artikel yang relevan, perhatikan abstrak, pendahuluan, metode, hasil, pembahasan, keterbatasan penelitian, dan bagian yang membahas rekomendasi penelitian berikutnya. Bagian-bagian tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai persoalan yang belum selesai dibahas.
Pada tahap berikutnya, catat informasi penting dari setiap jurnal dalam sebuah tabel. Beberapa kolom yang dapat digunakan meliputi nama penulis, tahun publikasi, topik, objek penelitian, variabel, metode, hasil utama, keterbatasan, serta rekomendasi penelitian. Pemetaan tersebut membantu peneliti melihat pola yang mungkin sulit ditemukan jika hanya membaca artikel secara terpisah.
Kemudian, bandingkan jurnal yang sudah dikumpulkan. Perhatikan apakah terdapat variabel yang belum pernah digunakan, objek yang masih jarang diteliti, hasil yang bertentangan, metode yang berbeda, atau konteks penelitian yang belum mendapatkan perhatian. Pendekatan terstruktur semacam ini dapat membantu peneliti mengidentifikasi gap secara lebih konsisten karena kesimpulan tidak hanya berasal dari satu artikel.
Temukan Gap dari Bagian Kesimpulan
Bagian kesimpulan merupakan salah satu lokasi yang berguna ketika peneliti sedang mencari research gap. Penulis jurnal biasanya merangkum temuan utama dan menjelaskan batasan penelitian yang telah dilakukan. Pada beberapa artikel, penulis juga memberikan rekomendasi mengenai penelitian yang masih perlu dilakukan pada masa mendatang.
Namun, membaca kesimpulan saja belum cukup untuk memastikan sebuah gap. Rekomendasi penelitian berikutnya perlu diperiksa kembali dengan melihat keseluruhan isi artikel. Peneliti perlu memahami alasan rekomendasi tersebut muncul, metode yang digunakan, karakteristik responden, serta batasan yang memengaruhi hasil penelitian.
Misalnya, sebuah jurnal menyatakan bahwa penelitian berikutnya perlu dilakukan pada kelompok responden yang berbeda. Pernyataan tersebut dapat menjadi petunjuk adanya population gap, tetapi peneliti tetap perlu memeriksa apakah kelompok tersebut memang belum banyak diteliti melalui jurnal lain. Dengan demikian, sebuah rekomendasi baru dapat disebut sebagai research gap yang potensial setelah dibandingkan dengan literatur yang lebih luas.
Bandingkan Temuan Antarjurnal
Membandingkan hasil penelitian merupakan cara penting untuk menemukan gap yang tidak selalu ditulis secara langsung oleh penulis jurnal. Misalnya, jurnal pertama menemukan bahwa penggunaan media sosial berpengaruh terhadap minat beli, sedangkan jurnal kedua menemukan pengaruh yang tidak signifikan. Perbedaan tersebut dapat menjadi titik awal untuk mencari penjelasan mengenai faktor yang menyebabkan hasil penelitian berbeda.
Perbandingan sebaiknya tidak dilakukan hanya terhadap hasil akhir penelitian. Peneliti juga perlu melihat karakteristik objek, lokasi, jumlah responden, periode penelitian, instrumen, variabel, dan teknik analisis yang digunakan. Perbedaan pada aspek-aspek tersebut dapat menjelaskan mengapa penelitian dengan topik serupa menghasilkan kesimpulan yang berbeda.
Setelah pola perbedaan ditemukan, peneliti dapat menyusun pertanyaan yang lebih spesifik. Contohnya, apakah perbedaan hasil terjadi karena karakteristik responden, perubahan kondisi sosial, penggunaan metode yang berbeda, atau faktor tertentu yang belum dimasukkan dalam model penelitian. Pertanyaan tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi dasar untuk menentukan arah penelitian baru.
Perhatikan Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan penelitian merupakan bagian penting yang perlu diperhatikan ketika mencari research gap. Penulis jurnal biasanya menjelaskan batasan yang memengaruhi ruang lingkup penelitian, seperti jumlah responden, lokasi, periode pengumpulan data, variabel, metode, atau karakteristik objek yang digunakan. Informasi tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai ruang yang masih dapat dikembangkan.
Sebagai contoh, sebuah penelitian tentang kepuasan pengguna aplikasi hanya dilakukan pada satu perguruan tinggi. Jika penelitian serupa belum banyak dilakukan pada perguruan tinggi dengan karakteristik berbeda, terdapat peluang untuk menguji apakah temuan tersebut tetap berlaku pada konteks lain. Akan tetapi, perubahan lokasi saja tidak otomatis menghasilkan penelitian yang bernilai apabila tidak memiliki alasan akademik yang jelas.
Karena itu, keterbatasan harus dihubungkan dengan pertanyaan penelitian. Peneliti perlu menjelaskan mengapa keterbatasan tersebut penting untuk dikaji dan apa yang dapat diketahui melalui penelitian lanjutan. Dengan hubungan yang jelas, research gap tidak berhenti sebagai daftar kekurangan penelitian terdahulu, tetapi berkembang menjadi dasar penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ubah Research Gap Menjadi Topik
Setelah research gap ditemukan, tahap berikutnya adalah mengubahnya menjadi topik penelitian yang spesifik. Proses ini dimulai dengan menentukan persoalan utama, kemudian mengidentifikasi objek, variabel, konteks, serta metode yang paling sesuai. Peneliti perlu menghindari topik yang terlalu luas karena akan menyulitkan proses pengumpulan data dan analisis.
Sebagai ilustrasi, peneliti menemukan bahwa sebagian besar penelitian tentang sistem rekomendasi berfokus pada platform e-commerce berskala besar. Sementara itu, penerapan sistem rekomendasi pada toko daring usaha kecil belum banyak dibahas. Dari temuan tersebut, peneliti dapat mempersempit fokus pada penerapan sistem rekomendasi untuk membantu personalisasi produk pada usaha kecil.
Tahap berikutnya adalah memastikan bahwa topik tersebut memang memiliki dasar dari literatur. Peneliti dapat kembali memeriksa jurnal terbaru untuk mengetahui apakah sudah ada penelitian yang mengisi celah tersebut. Pencarian ulang sangat penting karena literatur akademik terus berkembang, sehingga gap yang ditemukan pada satu waktu dapat berubah setelah muncul publikasi baru.
Kesalahan saat Mencari Research Gap
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap research gap harus berupa topik yang sama sekali belum pernah diteliti. Anggapan tersebut membuat pencarian gap menjadi terlalu sempit. Dalam praktiknya, kontribusi penelitian juga dapat muncul melalui pengujian pada populasi berbeda, konteks baru, metode berbeda, pengembangan teori, atau pengujian kembali temuan yang belum konsisten.
Kesalahan berikutnya adalah menjadikan satu jurnal sebagai satu-satunya dasar untuk menyatakan adanya gap. Sebuah artikel mungkin menyebutkan bahwa penelitian tertentu masih terbatas, tetapi pernyataan tersebut belum tentu menggambarkan kondisi seluruh literatur. Oleh sebab itu, peneliti perlu membandingkan beberapa sumber yang relevan sebelum menyimpulkan adanya kesenjangan.
Kesalahan lain yang perlu dihindari adalah membuat gap hanya untuk membenarkan judul yang sudah ditentukan. Pola seperti ini dapat membuat tinjauan pustaka menjadi tidak objektif karena peneliti hanya memilih sumber yang mendukung gagasannya. Research gap sebaiknya ditemukan melalui pembacaan dan perbandingan literatur secara kritis, kemudian digunakan untuk menentukan arah penelitian yang paling sesuai dengan bukti yang tersedia.
Cara Menulis Research Gap
Research gap dalam proposal atau skripsi sebaiknya ditulis dengan alur yang jelas. Peneliti dapat memulai dengan menjelaskan kondisi penelitian yang sudah tersedia, kemudian menunjukkan pola dari beberapa penelitian terdahulu. Setelah itu, jelaskan perbedaan, keterbatasan, atau aspek yang belum dikaji sehingga pembaca memahami letak kesenjangannya.
Berikutnya, hubungkan gap tersebut dengan kebutuhan penelitian. Misalnya, beberapa penelitian telah membahas penggunaan kecerdasan buatan dalam pendidikan, tetapi kajian mengenai penerapannya pada proses evaluasi pembelajaran di perguruan tinggi tertentu masih terbatas. Pernyataan tersebut perlu diperkuat dengan sumber jurnal yang relevan agar pembaca dapat melihat dasar dari argumen yang disampaikan.
Pada bagian akhir, jelaskan kontribusi yang ingin diberikan. Kontribusi dapat berupa pengujian variabel, pengembangan model, penerapan metode, perluasan objek, atau pengujian dalam konteks tertentu. Dengan pola tersebut, research gap dapat menjadi jembatan yang menghubungkan tinjauan pustaka, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan kebaruan penelitian secara logis.
Research Gap sebagai Dasar Penelitian
Pada akhirnya, research gap bukan sekadar istilah akademik yang perlu dicantumkan dalam proposal atau skripsi. Konsep ini membantu peneliti memahami perkembangan pengetahuan sekaligus menemukan pertanyaan yang masih membutuhkan jawaban. Penelitian yang berangkat dari gap yang jelas memiliki dasar argumentasi yang lebih terstruktur karena arah kajiannya dibangun dari hasil penelitian terdahulu.
Proses menemukan gap juga membutuhkan ketelitian. Peneliti perlu membaca berbagai sumber, mencatat informasi penting, membandingkan temuan, memeriksa keterbatasan, serta menilai apakah celah yang ditemukan benar-benar relevan. Kajian mengenai systematic review menunjukkan bahwa identifikasi gap dapat dilakukan secara sistematis untuk membantu menentukan kebutuhan penelitian berikutnya.
Bagi mahasiswa yang sedang menyusun skripsi, pemahaman mengenai research gap dapat menjadi bekal penting sebelum menentukan judul dan rumusan masalah. Dengan membaca jurnal secara kritis, penelitian terdahulu tidak lagi hanya menjadi referensi, tetapi juga menjadi peta yang menunjukkan apa yang sudah diketahui, apa yang masih diperdebatkan, dan bagian mana yang masih dapat dikembangkan. Dari sinilah sebuah ide penelitian dapat memiliki arah yang lebih jelas, relevan, dan memiliki dasar akademik yang kuat.